Kreativitas sudah menjadi barang langka, padahal sangat dibutuhkan untuk kelanggengan perusahaan apapun. Buku ini memberikan cara, saran, dan metoda untuk memasukkan kreativitas pada perusahaan.
Gaya penulisan buku bisnis dengan dongeng (parable) seingat saya dimulai dengan buku The Greatest Salesman in the World(Og Mandino)yang terbit pada 1968, kemudian series One-Minute Manager pada 1982, dan juga Who Moved my Cheese terbitan tahun 2000. Konsepnya sederhana: Enak dibaca dan perlu.
Dengan pendekatan yang berbeda, buku ini menyajikan 6 buah dongeng pendek dengan gaya yang berbeda-beda, dari horror vampire, misteri pembunuhan sadis, percintaan, puisi haiku Jepang, sampai dongeng Sleeping Beauty gaya korporat. Setiap dongeng diberi penjelasan dan dasar dasar teori manajemennya. Sangat menarik untuk dibaca bahkan terkadang mencekam dan mengharukan.
One must nuture chaos inside oneself to give birth to a dancing star (Friedrich Nietzsche), sepenggal tulisan ini mengawali tentang apa dan bagaimana kreativitas itu. Kreativitas adalah kemampuan kita untuk menghasikan sesuatu yang baru, baik sebuah solusi, metoda, alat, atau obyek artistik, yang berguna buat kita. Garasi adalah sebuah tempat yang selalu menghasikan ide-ide, metodologi atau teknologi baru yang membawa pembaharuan dalam produk atau service perusahaan.
Konsep menarik yang memakai pendekatan menyeluruh dalam buku ini adalah konsep BIZZ, BUZZ dan STUFF. Saya menemukan analogi sederhana: Bila perusahaan itu manusia, maka BIZZ itu faktor otak kiri, BUZZ itu berhubungan dengan otak kanan atau suara hati dan STUFF berhubungan dengan otot atau kemampuan kerja.
The bizz. Ini adalah strategi, perencannan, dan manajemen dari perusahaan, tentang bagaimana mengatur cost, kontrol, insentif, dan sistem. Ada 3 hal penting dalam Bizz: 1. Kepemimpinan dan pelatihan, yang memberi visi dan membuat semua orang dapat bekerja secara maksimal. 2. Manajemen Konsep Bisnis, berupa strategi kemampuan inti, strategi akan sumber daya, dan pendekatan pelanggan. Elemen dari bisnis konsep adalah efisiensi, keunikan, ketepatan, dan keuntungan. 3. Organizational alignment, yang mengharuskan kita untuk bisa menyatukan sistem secara terintegrasi.
The buzz. Kepuasan kerja, motivasi, kultur perusahaan, komunikasi yang enak, dan kerja yang menyenangkan, adalah elemen-elemen otak kanan dan hati yang menjadi dasar buzz. Motivasi karyawan dapat bersifat keluar, seperti insentif, promosi jabatan, kenaikan gajih, dan dapat pula kedalam, seperti pekerjaan yang menarik, ataupun kepuasan batiniah lainnya. Pendekatan manajemen untuk motivasi haruslah menyeluruh dan tidak terpenggal penggal. Komunikasi kedalam dan keluar haruslah bersifat jelas, tepat dan mengena.
The stuff. The stuff adalah fasilitas yang tersedia; tempat kerja, mesin-mesin dan pabrik, gudang, dan struktur perusahaan. Elemen stuff lainnya adalah knowledge and skills dan processes. Stuff menentukan bisa tidaknya perusahaan menghasilkan produk atau service itu sendiri. Proses bisnis adalah elemen infrasrtukur operasional perusahaan yang menjadi kunci lancar tidaknya perusahaan beroperasi.
Tipe bizz murni contohnya periset, akuntan, manajer finansial, sedangkan buzz contohnya artis dan pemusik, pabrikan biasanya masuk dalam kategori stuff. Ada perusahaan yang hanya bagus di satu dari ketiga elemen diatas. Ada yang bisa sukses di dua dari tiga hal diatas, tapi bila ingin menjadi pemain kelas dunia yang tangguh, perusahaan haruslah bagus di ketiganya. Perusahaan baru dunia internet biasanya hanya kuat di bizz dan buzz, sedangkan konglomerat kebanyakan bizz dan stuff.
Ada tiga elemen dasar dalam membuat cetak biru dari sebuah garasi. Kreativitas haruslah menjadi prioritas utama; pembuatan dan penagkapan ide, pencerahan dan pelaksanaan ide harus didukung dari pucuk pimpinan dan dilaksanakan pada semua tingkat. Buatlah unit khusus untuk garasi ini, baik secara akuisisi ataupun inkubasi, dimana unit ini dapat bergerak secara otonomi tanpa melapor pada stuktur yang ada. Yang terpenting akhirnya adalah mendapatkan tenaga kreatip untuk ini. Carilah sifat khusus seperti cerdas, informal, tidak menurut pakem yang ada, orisinil pemikirannya, lucu, nakal, penuh pengertian kedalam tapi anti birokrasi, ataupun bahkan yang seksi.
Toolbox of the garage. Ada 5 cara penting untuk para individu yang dapat diterapkan. Berpikir secara besar, tapi memperhatikan detil pekerjaan. Berpikir secara mendalam dalam proses perencanaan tapi harus ketat, tegas, dan keras dalam pelaksanaan. Tidak sekedar meniru perusahaan lain secara membuta, melainkan mengubah menjadi sesuatu yang lebih baik dan sesuai dengan perusahaan anda. Akuilah kesalahan, tapi janganlah takut berisoko. Berilah tempat untuk kreativitas. Semua hal ini menggabungkan elemen bizz dan buzz, antara otak dan hati, antara kerapian kerja dan kenikmatan kerja, yang akan membuat setiap individu menjadi sukses.
Ada 5 cara penting juga untuk bekerjasama dalam sebuah teamwork yang baik. Ketahuilah kekuatan masing-masing dan percayailah mereka. Nikmati interaksi yang terjadi, berilah kritik yang membangun. Harus ada elemen pemikir, pelaksana dan penyeimbang dalam sebuah grup, supaya ada ide baru yang dapat dilaksanakan dan ada orang yang dapat meredakan pergesekan. Pergunakan saat sepinya pekerjaan untuk mempersiapkan diri secara lebih baik menyambut ramainya pekerjaan. Rayakan keberhasilan tetapi janganlah menjadi puas.
The Technology of Mastercraft. Teknologi telah berubah dengan sangat cepat, sehingga seorang manajer atau pimpinan yang tidak be-email sudah merupakan sebuah dosa tak termaafkan. Sekedar memiliki teknologi tidaklah cukup, kita harus dapat secara kreatip memanfaatkan teknologi tersebut untuk kelancaran perusahaan. Sepuluh halaman penuh dipakai untuk menjelaskan perlunya sebuah situs internet yang baik bagi setiap perusahaan. Karena situs internet bukanlah sekedar brosur yang dimasukkan kedalam internet, tetapi interface paling penting dari perusahaan untuk bertemu dengan karyawan, supplier, investor, sampai pelanggannya. Sekmentasi, goal dan ekspektasi pelanggan, struktur, brand, dan standard kualitas pembuatan situs haruslah dapat menyatu dengan kesiapan deliveri, integrasi dan back-end dari website itu.
The Branding Mastercraft. Branding bukan lagi sekedar merek perusahaan, tapi haruslah dijalankan secara keseluruhan dengan pendekatan holistik pada semua lini usaha, pada semua karyawan, dan semua komunikasi yang ada. Haruslah ada sebuah organizational alignment dalam memberikan janji brand yang ada kepada semua stakeholder. BrandCORE, BrandID, BrandEXEC, BrandLEVERAGE, dan BrandSCORE adalah lima urutan dalam penggunaan brand yang benar. Setiap brand yang ada haruslah dikaji karakter dan kompetensi intinya, model-bentuk-warna-huruf dari merek dan logo itu, penerapannya kesemua aspek produk dan devisi, pemanfaatan brand untuk injeksi nilai-lebih pada produk, serta pengukuran akan efektivitas brand.
Customer Experience Management(CEM) adalah seluruh elemen pengalaman pelanggan saat berhubungan dengan perusahaan. Pendekatan experiensial secara menyeluruh mendasari konsep ini, dan merupakan pengembangan dari buku sebelumnya. Pengalaman pelanggan adalah kunci sukses, semua karyawan haruslah secara cepat, kompeten dan responsip dapat melayani pelanggan. CRM(Customer Relationship Management) hanyalah satu elemen dari CEM ini yang memanfaatkan teknologi dalam pendekatannya. Brand iamge, situs website, keramahan individu, kemauan menolong pelanggan, dan kultur perusahaan menjadi kunci sukses dalam CEM ini.
Bernd H. Schmitt, Ph.D adalah penulis sukses yang telah menelorkan buku Marketing Aesthetic: The Strategic Management of Brands, Identity and Image, dan Experiential Marketing: How to get customers to sense, feel, think, act and relate to your Company and Brands. Schmitt adalah profesor dari Columbia Business Scholl, dan ahli dalam strategi branding, pemasaran, dan komunikasi. Beliau juga seorang ahli Asia dan menjadi tenaga ahli di Shanghai, China. Situs Schmitt dapat diakses di www.meetschmitt.com, sedangkan situs buku ini www.buildyourowngarage.com juga sangat menarik dan berguna. Buku ini ditulis Schmitt bersama Laura Brown, yang juga muncul dibuku Experiential Marketing. Selamat menikmati.
>>
Back